BATAM – batamnews88– Peredaran rokok merek R7 Bold tanpa pita cukai resmi kini makin leluasa ditemukan di berbagai titik penjualan di Batam. Barang yang jelas melanggar aturan perundang-undangan ini tidak hanya menguasai pasar lokal, namun diduga juga disalurkan hingga ke luar wilayah Kepulauan Riau.
Berdasarkan pantauan lapangan, rokok R7 Bold dijual bebas dengan harga Rp12.000 per bungkus, jauh lebih murah dibandingkan produk rokok yang sudah melunasi kewajiban cukai kepada negara. Barang ini mudah ditemukan di warung kelontong, pasar tradisional, hingga kawasan sekitar pelabuhan penyeberangan tanpa ada hambatan yang berarti.
Sejumlah sumber yang enggan menyebutkan identitasnya mengungkapkan, jaringan peredaran rokok ilegal ini diduga dikuasai oleh pihak berinisial WL. Tidak hanya mengatur pendatangan dan penyimpanan barang di Batam, WL juga diduga berperan sebagai pemasok utama yang mendistribusikannya ke berbagai daerah di luar pulau. "Pengirimannya rutin menggunakan kapal kecil, seolah sudah memiliki jalur yang aman," ujar salah satu sumber.
Praktik ini jelas merugikan keuangan negara. Meski belum ada hitungan resmi, peredaran masif ini diperkirakan menyebabkan kerugian negara mencapai ratusan juta rupiah akibat tidak masuknya pendapatan cukai yang seharusnya diterima.
Kondisi ini memicu pertanyaan luas dari masyarakat dan pelaku usaha rokok resmi. Publik mempertanyakan efektivitas pengawasan dari instansi terkait, khususnya Bea Cukai, Kepolisian, dan instansi berwenang lainnya. Tak sedikit yang menduga adanya perlindungan dari oknum tertentu yang membiarkan peredaran barang ilegal ini terus berjalan.
Kepada seluruh penegak hukum dan instansi terkait, masyarakat meminta agar segera melakukan penindakan tegas dan adil. Seluruh jaringan yang diduga dipimpin WL perlu diselidiki secara menyeluruh, mulai dari sumber pendatangan, jalur distribusi, hingga pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Penindakan diharapkan dilakukan tanpa pandang bulu, agar kerugian negara tidak terus berlanjut dan iklim usaha yang sehat dapat terjaga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak yang diduga maupun instansi terkait terkait dugaan tersebut.(Ari yanto)

